Minggu, 08 April 2012

MENGENAL QIRAAT SAB’AH


MENGENAL QIRAAT SABAH
(Sebuah Pengantar)


Alqur’an adalah mukjizat abadi yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai hidayah dan petunjuk yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Alqur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang sangat tinggi susunan bahasa dan keindahan balagahnya. Bangsa Arab mempunyai berbagai lahjah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dan kabilah yang lainnya, baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya. Namun bahasa Quraisy mempunyai kelebihan dan keistimewaan tersendiri dari bahasa dan dialek yang lainnya. Adapun faktor yang membuat bahasa Quraisy lebih dominan dikarenakan orang Quraisy berdampingan dengan Baitullah, menjadi pengabdi urusan haji dan tempat persinggahan perniagaan.
Oleh karena perbedaan dan keragaman dialek tadi maka al Qur’an diturunkan Allah dengan berbagai dialek dan macam-macam cara membaca, sehingga memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.
Banyak sekali hadits yang menyatakan tentang diturunkannya Al Qur’an dalam Tujuh Huruf (Sab’atu Ahruf). Diantaranya Rasulullah bersabda :”Jibril telah membacakan Al Qur’an kepadaku dalam satu huruf. Aku berulang-ulang membacanya. Selanjutnya Aku selalu minta kepadanya agar ditambah, sehingga ia menambahnya sampai tujuh huruf.” (HR. Bukhori-Muslim).
Arti Sab’atu Ahruf dalam hadits di atas mengandung banyak penafsiran dari kalangan para ulama, hal ini disebabkan karena kata Sab’ah dan kata Ahruf mempunyai banyak arti. Kata Sab’ah dalam bahasa Arab bisa berarti tujuh, dan bisa juga berarti bilangan tak terbatas, sedangkan kata Ahruf adalah jamak dari Harf yang berarti makna, saluran air, wajah, kata, bahasa. Para ulama telah mencoba menafsirkan Sab’atu ahruf yang menurut Imam As-Suyuti tidak kurang dari empat puluh penafsiran. Sebagai bahan rujukan dapat kita ambil pendapat Abul fadl Ar-Razi, yang mengatakan bahwa arti Sab’atu Ahruf adalah tujuh wajah/bentuk maksudnya keseluruhan Al Qur’an dari awal sampai akhir tidak akan keluar dari tujuh wajah perbedaan berikut ini, yaitu;
  1. Perbedaan bentuk isim (mufrad, mutsanna, atau jama’), misalnya : Liamaanatihim (mufrad) dan Liamaanaatihim (jama’).
  2. Perbedaan bentuk fiil (madi, mudari, atau amr), misalnya : rabbanaa baa’ada (madi) dan rabbana baa’id (amr).
  3. Perbedaan bentuk I’rab (rafa’,nasab, jar, atau jazm), misalnya : waarjulikum (jarr) dan waarjulakum (rafa’).
  4. Perbedaan bentuk naqis atau ziyadah, misalnya : Qaaluttakhada dan Waqaaluttakhada.
  5. Perbedaan bentuk Taqdim dan Ta’khir, misalnya : Fayuqtaluuna wayaqtuluuna dan Fayaqtuluuna wayuqtaluuna.
  6. Perbedaan bentuk Tabdil, misalnya : Nunsyiruha dan Nunsyizuha.
  7. Perbedaan bentuk dialek (lahjah) misalnya imalah, tqlil, izhar dll.

Qiraat atau macam-macam bacaan Al Qur’an telah diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat sebagaimana beliau menerima bacaan itu dari Jibril AS. Dan pada masa sahabat telah muncul banyak ahli qiraat yang menjadi anutan masyarakat, diantarnya yang termasyhur antara lain Ubay, Ali, Zaid bin Sabit, Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Mereka itulah yang menjadi sumber bacaan Al Qur’an bagi sebagian besar sahabat dan tabiin
Suatu qiraat atau bacaan Al Qur’an dianggap sah apabila memenuhi tiga kriteria persyaratan, yaitu :
a). Harus mempunyai sanad yang mutawatir, yakni bacaan itu diterima dari guru-guru yang dipercaya dan bersambung kepada Rasulullah,
b). Harus cocok dengan Rasm Usmani, dan
c). Harus cocok dengan kaidah tata bahasa Arab.
Dari penelitian dan pengujian yang dilakukan para pakar Qiraat dengan menggunakan kaidah dan kriteria tersebut, diungkapkan bahwa suatu Qiraat bila ditinjau dari segi nilai sanadnya akan terbagi menjadi enam tingkatan Qiraat, yaitu:
  1. Mutawatir, yaitu Qiraat yang diriwiyatkan oleh sejumlah perawi yang cukup banyak pada setiap tingkatan dari awal sampai akhir yang bersambung hingga Rasulullah SAW
  2. Masyhur, yaitu Qiraat yang mempunyai sanad yang sahih, tetapi jumlah perawinya tidak sebanyak qiraat mutawatir
  3. Ahad, yaitu Qiraat yang mempunyai sanad yang sahih tetapi tidak cocok dengan Rasm Usmani ataupun kaidah bahasa arab
  4. Syaz, yaitu Qiraat yang tidak mempunyai sanad yang sahh yang tidak memenuhi figa syarat syah untuk diterimanya qiraat
  5. Mudraj, yaitu Qiraat yang disisipkan ke dalam ayat Al Qur’an
  6. Maudu, yaitu Qiraat buatan yakni disandarkan kepada seseorang tanpa dasar, serta tidak memilikisanad ataupun rawi.
Setelah melalui penelitian dan pengujian terhadap Qiraat Al qur’an yang banyak beredar, ternyata yang memenuhi syrat mutawati menurut kesepakatan para ulama Al Qur’an ada tujuh bacaan yang dipopulerkan oleh tujuh imam qiraat. Inilah yang kemudian dikenal demngan Qiraat Sab’ah. Para Imam Qiraat Tujuh tersebut tentu mempunyai murid banyak yamg meriwayatkan dan meneruskan Qiraat guru-gurunya hingga sampai kepada kita sekarang ini. Namun dalam dunia Qiraat hanya diambil dua orang perawi saja dari masing-masing imam qiraat. Adapun ketujuh Imam qiraat tersebut antara lain;
  1. Imam Nafi’, nama lengkapnya Nafi’ bin Abdurrahman bin abu Nuaim Al-laisi, lahir tahun 70 H dan wafat 169 H di Madinah. Sanad atau silsilah imam ini adalah ia mempunyai banyak guru diantaranya Abdurrahman bin Hurmuz, Abdurrahman dari Abdullah bin Abbas da Abu Hurairah, dari Ubay bin Ka’b dan Ubay dari Rasulullah SAW. Adapun perawi imam Nafi adalah :
a). Qaaluun, dengan nama lengkapnya ialah Abu Musa Isa bin Mina dan
b). Warsy dengan nama lengkapnya Usman bin Sa’id Al- Misri
  1. Ibnu Katsir, nama lengkapnya Abu Ma’bad Abdullah bin Katsir Al-Makki, lahir tahun 45 H dan wafat di Mekah tahun 120 H. Sanad bacaannya dari Abdullah bin Sa’id Al-Makhzumi. Abdullah membaca dari Ubay bin Ka’b Umar bin Khatab, keduanya membaca dari Rasulullah. Adapun perawi Imam Ibnu Katsir adalah
a). Al-Bazzi yang nama lengkapnya Ahmad bi Muhammad bin Abdullah bin Abu Bazzah, dan
b). Qunbul dengan nama lengkapnya Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Makhzumi.
  1. Abu Amr, nama lengkapnya Zabbaan bin Al’Ala’ bin ‘Ammar, lahir tahun 68 H dan wafat di Kuffah tahun 154 H. Sanad Imam ini adalah dari Abu Ja’far Yazid bin Al-Qa’qa’ dan Hasan Al-Basri. Hasan membaca dari Khatthan dan Abu Aliyah. Abu Aliyah membaca dari Umar bin Al-Khatab dan Ubay bin Ka’b dan keduanya dari Rasulullah. Perawi Imam ini ialah
a). Ad-Duri yang nama lenglapnya Abu Umar hafs bin Umar dan
b). As-Susi atau Abu Syua’ib Salih bin Ziyad As-Susi.
  1. Ibnu Amir, nama lengkapnya Abdullah bin Amir Al-Yahsabi lahir tahun 21 H, wafat tahun118 H di Damaskus. Sanad Imam ini hanya berselang seorang sahabat yaitu  Usman bin Affan dan Usman dari Rasullullah. Perawi Imam ini adalah
a). Hisyam yakni Hisyam bin Ammar Ad-Dimasqi dan
b). Ibnu Zakhwan yakni Abu Amir Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakhwan Ad-Dimasyqi.
  1. ‘Asim, nama lengkapnya Abu Bakar bin Abun Najud Al-Asadi, wafat di Kuffah tahun 128 H. Sanad Imam ini, ia membaca dari Abu Abduerrahman bin Hubaib As-Sulami, Abu Abdurrahman membaca dari Abdullah bin Mas’ud, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’b dan Zaid bin Sabit dan para sahabat tersebut dari rasulullah SAW. Adapun perawi ini adalah
a). Syu,bah yang nama lengkapnya Abu baker Syu’bah bin Ay-Yasi bin Salim Al-Asadi dan
b). Hafs, yang namalengkapnya Abu ‘Amr Hafs bin Sulaiman bin Al Mughirah. Bacaan Imam Hafs inilah yang beredar di Indonesia.
  1. Hamzah, nama lengkapnya Hamzah bin Hubaib Az-Zayyat lahir tahun 80 H dan wafat tahun 156 H di Halwan. Sanad imam ini ialah ia membaca dari Abu Muhammad bin Sulaiman bin Mahran Al-‘Amasyi, Al-‘Amasyi dari Abu Muhammad Yahya Al-‘Asadi, Yahya menerima dari Al-Qamah bin Qais, dan Al-Qamah talaqqi dari Abdullah bin Mas’ud dsan Ibnu Mas’ud dari Rasulullah. Adapun perawinya ialah
a). Kholaf atau Abu Muhammad Kholaf bin Hisyam Al-Bazzaz dan
b). Khalad atau Abu Isa Khallad bin Kholid As-Sairafi.
  1. Al- Kisai, nama lengkapnya Abul Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisai. Sanadnya ialah ia membaca Al-Qur’an dari imam Hazah dan juga talaqqi pada Muhammad bin Abu laili serta Isa bi Umar dan Isa bin Umar dari ‘Asim. Adapun perawi imam Al-Kisai ialah
a). Abu Haris yang nama lengkapnya ialah Al-Lais bin Khalid Al-Bagdadi
b). Ad -Duri  yang telah dikemukakan di atas dan ia sebagai perawi dari abu Amir. Dalam hal ini ia juga disebut Ad-Duri Al-Kisai.
Disamping tujuh imam qiraat tersebut, para ulama juga memilih tiga orang imam lagi yang qiraatnya benar dan mutawatir yaitu Abu Ja’far, Ya’kub dan Khalaf. Mereka bersama tujuh imam di atas berjumlah sepuluh, dan bias disebut Qiraat ‘Asyr (Qiraat Sepuluh).
            Perlu diketahui bahwa bacaan suatu lafaz Al-Qur’an bila dinisbatkan kepada seorang imam qiraat, maka ia dinamakan “Qiraat”. Oleh karena disebutkan Imam qiraatnya, berarti bahwa bacaan kedua perawinya tidak ada ikhtilaf. Sebaliknya bila bacaan suatu lafaz Al-Qur’an dinisbatkan kepada perawinya, maka dinamakan  Riwayat”, dan ini berarti bahwa dalam bacaan lafaz tersebut pasti ada ikhtilaf antara kedua orang perawi dari Imam Qiraat itu.
            Sebagai contoh, umpamanya lafaz “Maliki” dalam surat Al- Fatihah oleh Imam ‘Asim dan Al-Kisai dibaca dengan menetapkan Alif (isbat alif), yakni dibaca “Maaliki”. Ini berarti kedua perawi Imam ‘Asim (yaitu Syu’bah dan Hafs)  dan perawi Al-Kisai (yaitu Abul Haris dan Ad-Duri) sama-sama membaca isbat alif sebelum Mim.
            Contoh lain misalnya lafaz “Assholaata”, lafaz ini dibaca Tagliz Lam (menebalkan lam) oleh Imam Warsy. Oleh karena Imam Warsy ini adalah seorang perawi dar Imam Nafi’, maka perawi Imam Nafi’ yang lainnya yakni Imam Qaluun tentu tidak membaca dengan “Tagliz Lam” melainkan dengan Tarqiq Lam (menipiskan Lam). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bacaan Assholaata menurut Imam Nafi’ riwayat Warsy dibaca “Tagliz Lam”, sedangkan menurut riwayat Qaluun dibaca dengan “Tarqiq Lam”.

            Demikian sekilas pengantar mengenai Qiraat Sab’ah, dan insya Allah pada tulisan berikutnya akan dipaparkan mengenai kaifiah dan aturan-aturan tajwid dalam Qiraat Sab’ah. Semoga bermanfaat dan menjadi suatu inspirasi dalam rangka mempelajari lebih lanjut kalam Allah yang sempurna ini. Wallahu ‘alam Bisshawab.

REFERENSI
  1. Kitab Al-Waafi Fi Syarhisy Syatibiyah Fi Qiaraati Sab’ oleh Abdul Fattah Al-Qaadi
  2. Kitab Siraajul Qorri Al-Mubtadi Watizkaarul Muqri al-Muntahi oleh Abul Qasim Ali bin Usman bin Muhammad bin Ahmad bin Hasan
  3. Kitab Al Buduuruz Zahirah Fil Qiraatil ‘Asyr al-Mutawaatirah min Taririiqay asy-Syatibiyah wad Durrah oleh Abdul fatah A-Qadi
  4. Qaaidah Qiraatis Sab’ ( Ma’had Ad-Diraasat Fi Ulumil Qur’an) IIQ JKT
           
  

7 komentar:

  1. semoga meberi informasi untuk semakin mencintai alqur'an..amiin

    BalasHapus
  2. subhanallah... bermanfaat sekali untuk menjawab tuduhan orientalis bahwa alquran terdapat kontradiksi (perbedaan-perbedaan)

    BalasHapus
  3. ijin copas akhi. sukron wa jazakallahu khoir.

    BalasHapus
  4. Assalamu'alaikum Ustadz. ini sangat membantu saya, tp sya juga mau minta tolong nih, apa kelebihan dan kekurangan daripada qira'ah sab'ah tersebut?
    .saya lagi nyusun skripsi.
    ke email aza ya ustdaz, makasih sebelumnya.

    BalasHapus